Ghost Blows Out The Light – Chapter 3: Mayat yang Terlantar (Part 2)

Mayat gadis itu membuka kedua mata dinginnya dan membuat Hu Guohua menatapnya langsung. Tubuhnya gemetar hebat, seakan dia baru saja jatuh ke tempat terdingin di bumi.

Mayat sang gadis tersenyum, “Kalian anak muda benar-benar mata duitan. Bangsat sepertimu hanya ingin uang, namun apakah kau bersedia melakukan apapun? Sepertinya kau tidak butuh jantungmu. Kenapa tidak kuambil saja darimu?” Lanjutkan membaca “Ghost Blows Out The Light – Chapter 3: Mayat yang Terlantar (Part 2)”

Iklan

Ghost Blows Out The Light – Chapter 3: Mayat yang Terlantar (Part 1)

Sejak saat itu, Hu Guohua berperan sebagai seorang tentara dan diberi banyak tanggung jawab. Waktu itu, dunia sedang dalam kekacauan dan para laksamana terus bertarung satu sama lain. Jika seseorang membentuk pasukan berjumlah kurang lebih seratus orang, mereka akan membentuk sebuah faksi. Hari ini, satu faksi bisa menghancurkan faksi lain. Hari berikutnya, faksi itu bisa ganti dihancurkan oleh faksi yang lainnya lagi. Tanpa kekuatan, hampir mustahil sebuah faksi bisa bertahan hidup. Laksamana yang dipilih Hu Guohua tidak memiliki begitu banyak armada. Hanya dalam kurun waktu satu tahun, faksi mereka dikalahkan. Tentara di pasukan faksi entah mati entah melarikan diri. Laksamana yang menolong Hu Guohua berakhir dengan peluru di dadanya. Lanjutkan membaca “Ghost Blows Out The Light – Chapter 3: Mayat yang Terlantar (Part 1)”

Ghost Blows Out The Light – Chapter 2: Sang Tikus

Musim semi itu, banyak kejadian berlangsung. Fakta bahwa Hu Guohua telah menggunakan sebuah boneka kertas untuk mengelabui pamannya agar memberinya uang telah akhirnya terbongkar. Marah dan kecewa, pamannya jatuh sakit. Tiga hari kemudian, nyawanya meninggalkan raganya.

Semua anggota keluarga Hu menghindarinya seakan wabah. Mereka bahkan tidak bersedia memberinya apapun untuk dimakan, apalagi meminjaminya uang. Hu Guohua menjual kotak sandal terakhir dari rumahnya untuk dua koin perak. Kotak itu dulunya menyimpan mahar ibunya. Bagaimanapun, dia ingin menyimpannya, dan sangat tidak mau menggadaikannya. Namun, candu narkobanya kembali menyeruak dan dia tak lagi bisa mengabaikannya. Dia menggunakan dua koin perak untuk membeli satu gram kecil opium. Dia bergegas pulang untuk menghisapnya di tempat tidurnya. Setelah mengambil dua hisapan panjang, dia merasa seakan terbang diantara awan. Lanjutkan membaca “Ghost Blows Out The Light – Chapter 2: Sang Tikus”

Ghost Blows Out The Light – Chapter 1: Boneka Seputih Kertas (Part 2)

Hu Guohua berdiri bengong disana. Hatinya kacau dan tak tahu apakah harus merasa senang atau takut. Waktu berjalan dengan cepat. Dalam sekejapan mata, malam pun datang. Boneka kertas memasak makanan satu meja penuh. Pamannya sangat bahagia mulutnya tak pernah menutup, namun Hu Guohua tidak mood untuk makan. Dia melihat kearah gadis disebelahnya dan merasa sakit seakan dia baru saja makan lalat. Wajahnya benar-benar putih tanpa ada bekas warna lain. Satu-satunya warna yang ada di wajahnya hanya berasal dari make up. Lanjutkan membaca “Ghost Blows Out The Light – Chapter 1: Boneka Seputih Kertas (Part 2)”

Ghost Blows Out the Light – Chapter 1: Boneka Seputih Kertas (Part 1)

Kakekku bernama Hu Guohua. Kakek moyangnya merupakan pemilik tanah yang terkenal di lingkungan sekitar. Selama masa-masa kaya dan subur itu, mereka membeli tiga jalan kecil di kota yang menghubungkan empat puluh rumah. Mereka juga terlibat dalam politik dan perdagangan, mendonasikan perbekalan makanan ke balai kota dan membantu dengan transportasi.

Namun sebagaimana kata pepatah: “Kekayaan tak kan bisa bertahan tiga generasi.” Pepatah ini sangat masuk akal. Bahkan jika sebuah keluarga memiliki gunungan emas dan perak, itu masih belum seberapa dibanding dengan pemborosan oleh keturunan mereka. Lanjutkan membaca “Ghost Blows Out the Light – Chapter 1: Boneka Seputih Kertas (Part 1)”

Ghost Blows Out the Light – Prolog

Menjarah kubur bukanlah tamasya. Bukan mendeklamasikan puisi, apalagi melukis. Dia tidak seelegan, sesenggang atau sesopan itu. Menjarah kubur adalah sebuah skill, kemampuan yang membutuhkan penghancuran. Ketika bangsawan jaman dulu membangun kuburan mereka, mereka jelas berpikir tentang berbagai cara untuk menggagalkan pencurian. Mereka menggunakan apapun yang dapat mereka pikirkan dan memasang segala macam jebakan dan senjata tersembunyi, seperti batu-batu besar, jebakan pasir hisap, panah beracun, serangga berbisa, lubang perangkap, dll. Terlalu banyak untuk dihitung. Lanjutkan membaca “Ghost Blows Out the Light – Prolog”

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑