Caeruleum – Chapter 3: Tekad Putra Sang Iblis

“Aku menggunakan pengendalian tanah untuk bergerak cepat ke Quma dan Viaya,” mata Lala bersinar, “aku hanya bertemu sebentar dengan Saba di Quma dan Manolith di Viaya jadi aku tidak menghabiskan banyak waktu disana. Aku meminta mereka mencari tahu dan segera melaporkan padaku kalau menemukan sesuatu.”

“Ya, bagus. Saba mengenal semua penduduk Quma jadi dia tidak akan kesulitan menanyai mereka disana.” Wald meletakkan secangkir teh hangat untuk Krav.

“Dan Manolith mengendalikan guild petualang di Viaya jadi dia juga tidak akan kesulitan mencari informasi,” Krav menyeruput tehnya, “jadi aku langsung kembali setelah menemui Manolith. Tapi sebelumnya aku memutuskan untuk melihat pantai dimana Azur terdampar, dan aku menemukan belati itu,” Krav menunjuk belati Fakon di tangan Azur.

Lanjutkan membaca “Caeruleum – Chapter 3: Tekad Putra Sang Iblis”

Iklan

Caeruleum – Chapter 2: Lala

“Hmmm hmmm hmmm.”

Lala bersenandung ria sembari menjalankan gerobak mini mainannya.

Tadi sore, Krav mengantarkannya ke rumah Wald sebelum berangkat ke Viaya. Sudah beberapa kali Lala menginap disana setiap kali Krav pergi dan bermalam di luar. Jadi Lala tak lagi canggung bermain di rumah Wald. Atau memang karena Lala tak pernah merasa canggung sekalipun.

Lanjutkan membaca “Caeruleum – Chapter 2: Lala”

Caerulerum – Chapter 1: Anak yang Terdampar

Air laut masih terasa dingin membasuh kaki Wald ketika dia berjalan disepanjang pantai pagi ini. Dia sesekali memang datang ke pantai untuk mencari kerang. Air yang baru surut setelah pasang di malam harinya banyak menghanyutkan kerang ke pantai, jadi dia selalu pulang membawa banyak tangkapan kerang setiap kali pergi. Namun kali ini Wald menemukan sesuatu yang lain. Patahan-patahan bambu berserakan di satu titik pantai, dan diantaranya, terbaring seorang anak lelaki.

Badannya sangat lemah, dan penuh luka gores dari patahan bambu dan gesekan pasir. Tanpa pikir panjang Wald membawanya pulang. Dia tidak ingin berspekulasi darimana anak ini berasal atau apa yang terjadi padanya, prioritas utamanya adalah menyelamatkannya. Dia bisa bertanya semua itu nanti kalau anak ini sudah pulih.

Seumur hidup tinggal di pulau Avaja, ini bukan yang pertama kali Wald menemukan seseorang terdampar di pantai. Avaja bukan pulau terpencil, ini adalah pulau yang diapit dua benua utama Gaia, benua Araea dan Gannao. Sudah lama pulau ini digunakan sebagai penghubung antara dua benua tersebut. Karenanya, banyak kapal dagang atau kapal petualang yang singgah di satu-satunya kota di Avaja, Viaya. Di masa muda Wald, kerap dia melihat kapal karam akibat konstruksi kapal yang tidak kuat. Sudah tak terhitung banyaknya orang yang terdampar di pantai selatan Avaja.

Ini yang kemudian mendorong Wald untuk mempelajari teknik konstruksi kapal. Dia mulai dengan memperbaiki kapal yang singgah di Viaya. Kebanyakan kapal yang selamat sampai dengan kondisi memprihatinkan, jadi dia mendapat banyak pengalaman dengan cepat. Hanya dua tahun berlalu hingga dia mampu membangun kapalnya sendiri.

Industri kapal bukanlah sesuatu yang banyak diminati saat itu, jadi Wald tidak kesulitan menjual kapal pertamanya. Ketika tersebar berita bahwa kapalnya sampai dengan selamat di benua Araea, dia mendapat banyak pesanan kapal. Namanya melejit sebagai seorang pembuat kapal termasyhur.

Namun Wald tidak mempunyai ambisi yang besar. Yang dia inginkan hanya menolong para pelaut berlayar dengan aman. Ketika memasuki usia tua, dia meninggalkan industri pembuatan kapalnya di Viaya pada orang-orang kepercayaannya, dan hidup tenang di desa kecil di selatan Avaja, mengetahui bahwa para pelaut tidak akan lagi mengalami karam di laut Viaya.

Itulah mengapa dia merasa sangat perih ketika mengetahui ada korban lain terdampar di pantai selatan. Terlebih seorang anak-anak. Dengan tergesa dia membopong anak itu ke rumahnya, meninggalkan keranjang kerang yang dia bawa.

Wald tinggal sendiri di gubuk tepi hutan, yang tepat merupakan perbatasan antara hutan dan desa Merparan. Dia tidak pernah menikah, jadi dia tak pernah memiliki anak. Karenanya dia terlalu panik dalam usahanya menolong anak yang terdampar ini. Setelah membaringkannya di tempat tidur dan mengobati luka di sekujur tubuhnya, dia bolak-balik menengok keadaannya setiap menit, berjalan berputar-putar di sekeliling rumah. Ketika matahari mulai merambat naik, anak itu mulai mengerang rintih yang membuat Wald tunggang langgang mendatanginya.

“Ibu…” kata pertama yang keluar dari mulut anak itu membuat Wald terpaku.

Air mata mulai mengalir di kedua mata sang anak ketika Wald memutuskan untuk memeluk anak itu. Isakan pelan yang berubah menjadi raungan dia biarkan keluar darinya. Ketika tangisannya mulai mereda, Wald sadar bahwa anak itu telah menutup matanya. Kembali panik dia mengecek nadi sang anak. Berdetak. Wald bernafas lega.

Barulah sekarang Wald bisa berfikir jernih. Anak ini kelelahan sehingga jatuh tertidur. Wald menyiapkan bubur panas yang diletakkannya di meja dekat tempat tidur, dan bergegas keluar ke desa menemui seseorang untuk meminta bantuan.

—0—

BAK!

“Ayah! Kupu-kupunya terbaaang!” Lala melirik sengit pada Krav. Krav hanya bisa meringis.

“Kan ayah sedang memotong kayu, La, jadi pasti suaranya keras.”

“Ya kecilin dong suaranya! Berisik! Kasian kupu-kupunya.” Lala berlarian mengikuti kupu-kupu yang sekarang terbang diatas kepalanya.

Krav menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengangkat kapaknya, bersiap memotong batang kayu yang lain. Namun seseorang berjalan masuk pekarangan rumahnya, membuatnya urung melanjutkan gerakannya dan meletakkan kapaknya di tanah.

“Kakek Wald,” sapanya tersenyum.

“Kakek Wald!” Lala berteriak dan berlari menyambut tamu mereka. Wald terkekeh selagi disambut dengan pelukan Lala.

“Kau masih ngeyel memanggilku kakek? Benar-benar tidak sadar umur sendiri, heh?” Wald menghardik Krav sembari tertawa.

“Hahaha aku selalu merasa muda setiap kali bersama anak ini,” Krav menyeringai kearah Lala, yang dibalas dengan leletan lidah gadis kecil itu.

“Tapi ada apa kau kesini? Sudah butuh kayu lagi?” Krav bertanya pada Wald setelah mempersilahkannya duduk di bangku kayu panjang di depan rumah.

“Tidak, ada sesuatu yang lain yang ingin aku minta pertolonganmu,” Wald duduk di bangku, disusul Lala yang dengan santainya melemparkan tubuhnya ke pangkuan Wald.

“Oh? Ada masalah apa?”

“Pagi ini aku menemukan seorang anak terdampar di pantai,” Wald membuka penjelasannya, “namun bersamanya bukan serpihan kayu dari kapal yang hancur, melainkan serpihan bambu seperti yang sering digunakan untuk membuat rakit.”

“Rakit? Anak itu berlayar di laut dengan rakit?” Mata Krav membesar.

“Aneh memang. Karenanya aku datang kesini. Cobalah kau pergi ke Viaya, melewati Quma, mencari tahu darimana anak ini berasal. Melihat bahwa dia hanya berlayar menggunakan rakit, kurasa dia tidak datang dari tempat yang jauh dari sini,” Wald mengutarakan permintaannya. Krav terlihat berfikir.

“Ya, kau benar. Besar kemungkinan dia berasal dari Viaya. Tempat itu penuh dengan petualang, jadi aku tidak akan kaget kalau anak itu dibu… yah itulah. Aku akan berangkat sore nanti,” Krav menyudahi kalimatnya mengingat ada Lala yang mendengarkan.

“Apa apa ada anak terdampar di rumah kakek Wald?” Lala akhirnya nimbrung. Wald tersenyum geli.

“Terdampar di pantai, La. Kasihan badannya penuh luka. Kamu mau nemenin dia?” Tanya Wald. Lala mengangguk cepat.

“Ya ya Lala mau Lala mau. Ayah mau ke Viaya kan? Jadi Lala nginap di kakek lagi?”

“Iya. Lala temenin sekalian anak itu ya,” Krav membelai rambut Lala.

“Tapi namanya siapa kek? Kok dari tadi manggilnya ‘anak itu’ terus?” Lala bertanya.

Wald melongo.

< Prolog

Chapter 2 >

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑