How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 23: Dan Kemudian Ada Tiga

Menyalakan api unggun menjadi tugas mudah karena kayu bakarnya sudah membara. Kami menumpuknya, menambah beberapa kayu kecil, dan hei presto.

Kami fokus membersihkan kelincinya dan mengorganisir bagaimana memasaknya. Aku merasakan tatapan dendam kearah kami, namun tidak yakin bagaimana harus meresponnya. Tidak ada keraguan di pikiranku bahwa masalah ini belum selesai. Di satu titik kami akan dipaksa membayar atas ledakan kami tadi, namun untuk saat ini aku bermaksud untuk makan malam dan merencanakan kegiatan esok hari.

Cukup pantas disebutkan bahwa selagi keributan kecil kami berlangsung, Kelompok Keren benar-benar tak menghiraukan kami. Maksudku bukan mereka melihat diam-diam, maksudku kurasa mereka bahkan tidak tahu. Apapun yang mereka bicarakan pasti jauh lebih penting dan menarik daripada apa yang kami orang udik lakukan. Lanjutkan membaca “How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 23: Dan Kemudian Ada Tiga”

Iklan

How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 22: Hadiah Dari Prometheus

Waktu sudah sore dan cahaya sudah mulai memudar ketika kami sampai di gubuk. Kapten Grayson duduk di pinggir mejanya dengan tumpukan selimut abu-abu disebelahnya.

“Selamat datang kembali,” katanya. “Kulihat kalian telah…” suaranya menghilang selagi dia melihat kelinci yang kami bawa dan dia menunjukkan ekspresi aneh yang tak dapat kujelaskan. “Ini, kalian akan membutuhkan ini. Udara jadi sedikit dingin di malam hari.”

Dia menyerahkan selimut pada masing-masing dari kami. Selimutnya tidak terlalu besar, sekitar seukuran dengan handuk – lebih seperti selendang daripada jubah – terbuat dari bahan kasar yang membuat gatal. Kami dengan senang mengambilnya dari tangannya. Lanjutkan membaca “How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 22: Hadiah Dari Prometheus”

How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 21: Bolehkah Aku Mengambil Mantelmu

Segera setelah kami sampai di Probet, kami menuju toko penyamak, dengan bangga membawa kelinci tunggal kami seolah ini adalah pencapaian yang hebat. Yang mana memang hebat bagi kami, jadi bukan hal aneh jika kami merasa agak bangga dengan diri kami sendiri.

Tukang samak segera membawa kami kembali ke bumi.

“Kami tidak mengambil semuanya, hanya kulit saja.” Dia berada di luar tokonya, memotong sepotong kulit kaku yang berasal dari binatang besar. Lanjutkan membaca “How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 21: Bolehkah Aku Mengambil Mantelmu”

How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 20: Bunuh Welinci

Kami akhirnya memutari ladang gandum dan sampai di sisi seberang. Padang hijau kosong dengan dataran naik landai kearah bukit rendah, yang dibaliknya ada area rerumputan terbuka, datar dan terhampar hilang di kejauhan di segala arah.

Negara ini disebut Flatland, dan kuduga inilah alasannya (Flat = datar).

Dan dimanapun kau melihat ada kelinci. Ratusan. Lanjutkan membaca “How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 20: Bunuh Welinci”

How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 19: Berburu Kita Akan Pergi

Kami meninggalkan gubuk dan berjalan ke timur. Semua orang takjub aku tahu kemana kami harus pergi, namun aku memberitahu mereka bagaimana aku mendapat arahnya, menurunkan harapan mereka.

Aku bisa saja membiarkan mereka percaya aku punya kemampuan alami untuk mengetahui kemana aku harus pergi, namun kemudian mereka akan mulai bergantung padaku untuk memberitahu apa yang mereka harus lakukan. Beberapa orang menyukai hal-hal seperti itu – menjadi panutan, ditanya bagaimana pendapat mereka, dikagumi. Cara terbaik membuat dirimu terlihat seperti orang idiot, menurut pengalamanku. Lanjutkan membaca “How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 19: Berburu Kita Akan Pergi”

How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 18: Kunci dan Muat

Tepat sebelum aku berjalan melalui pintu gubuk, aku mendapat godaan untuk berputar 180 derajat dan pergi sendiri. Setiap kali aku bermain MMO di komputer, aku memilih bermain solo. Game online didesain untuk menjadi aktifitas sosial. Kau bisa berbicara dengan orang lain selagi kau bermain, merencanakan dan mengkoordinasikan serangan, ngobrol tentang ini dan itu. Kau berbagi kesenangan dan kesedihan, tawa dan tangis.

Aku tidak. Aku suka menjelajah sendirian dan mencoba mengatasi monster sendiri pula. Butuh lebih lama namun lebih tidak merepotkan seperti itu. Tentu saja, aku kadang akan bergabung dengan kelompok untuk masuk dungeon atau raid, tapi sering kau hanya akan bertemu dengan orang-orang brengsek. Lanjutkan membaca “How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 18: Kunci dan Muat”

How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 17: Bukan Excalibur

Murid pandai besi melipat lengannya. “Membuat sebuah senjata tanpa palu tidak akan mudah. Senjata seperti apa yang kau pikirkan?” Dia mengangkat tangannya dan mengelus dagunya dengan ujung ibu jari.

Sejujurnya aku tidak memikirkan apapun. Aku telah mendapat ide dia membuatkanku senjata hanya agar aku bisa mendapatkannya dengan gratis. Aku jelas tidak punya rencana mencari binatang superior. Aku sampai mendapat bayangan gorila yang dapat berbicara memburuku naik kuda dengan jaring.

“Erm, yah, bagaimana dengan sesuatu yang berujung tajam? Jika aku bisa menusuknya di mata atau telinga aku mungkin cukup beruntung dan membunuhnya sekaligus.” Lanjutkan membaca “How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 17: Bukan Excalibur”

How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 16: Mari Buat Kesepakatan

Aku mengangkat tanganku. “Hai. Aku hanya melihat-lihat.”

“Aku tahu siapa kau,” dia berkata dengan suara gemetar. “Kalian datang kesini, mengambil apa yang kalian inginkan, membunuh demi kesenangan.” Suaranya mulai melengking sampai akhirnya menjadi desisan. “Pergi saja.” Pisaunya bergetar di tangannya.

“Em… Aku tidak membunuh demi kesenangan. Aku belum membunuh apapun, bahkan bukan apa yang kumakan.”

Dia terlihat bingung. Lanjutkan membaca “How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 16: Mari Buat Kesepakatan”

How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 15: Berjalan di Sisi Liar

Aku berdiri dan berkata, “Kamar mandi,” menjawab wajah-wajah penuh tanya yang menatap kearahku. “Soal The Hunger Games, cerita cintanya masih lebih bagus dari Twilight, kan?” Aku menjatuhkan granat sastra itu dan berjalan pergi.

Sebenarnya aku tidak perlu pup – mungkin tidak akan pernah lagi kalau aku hanya merasa ususku mengeras setiap kali selesai – aku hanya ingin pergi dari sana dan menyendiri untuk sejenak. Lanjutkan membaca “How to Avoid Death on a Daily Basis – Chapter 15: Berjalan di Sisi Liar”

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑